NEWS SARMI– Kampung Gwinjaya di Kabupaten Sarmi, Papua, kini punya alasan untuk berbangga. Dari tangan-tangan terampil warga desa, lahirlah produk inovatif yang unik dan bercita rasa khas Nusantara: Kecap Sagu. Produk ini tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat setempat, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui pemberdayaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mekar Jaya.
Dari Bimbingan Akademisi, Lahirlah Inovasi Lokal
Keberhasilan warga Gwinjaya dalam menciptakan kecap sagu tidak terjadi begitu saja. Inovasi ini berawal dari program pelatihan dan pendampingan yang digagas oleh tim akademisi Universitas Cenderawasih, dengan pimpinan pelaksana Dr. Tri Gunaedi dan Dr. Ign. Joko Suyono.
Dalam kegiatan tersebut, Dr. Meinarni Asnawi turut menjadi pembimbing dalam aspek pemasaran. Melalui kolaborasi antara dunia akademik dan masyarakat desa, lahir sebuah produk yang tidak hanya berdaya saing, tetapi juga mengangkat kearifan lokal Papua.
Menjawab Tantangan Produksi dan Pemasaran
Sebelum pelatihan dimulai, BUMDes Mekar Jaya menghadapi berbagai kendala, terutama dalam hal produksi dan pemasaran. Dari sisi produksi, tantangan utama adalah menjaga mutu dan kestabilan cita rasa kecap agar dapat bersaing di pasar. Masalah ini berhasil diatasi melalui serangkaian pelatihan mengenai proses produksi, uji mutu organoleptik, pelabelan produk, hingga perolehan izin produksi dan sertifikat halal. Langkah-langkah ini menjadikan kecap sagu tidak hanya lezat, tetapi juga aman dan memenuhi standar pangan nasional.
Sementara dari sisi pemasaran, pelatihan difokuskan pada pengelolaan keuangan, perhitungan laba rugi, pengendalian bahan baku, serta strategi promosi dan penentuan harga jual. Dengan bekal tersebut, masyarakat kini lebih percaya diri memasarkan produk unggulannya, baik di tingkat lokal maupun regional.
Resep Tradisional yang Diolah dengan Ilmu Modern
Salah satu daya tarik utama kecap sagu terletak pada proses pembuatannya yang memadukan kearifan lokal dan inovasi ilmiah. Proses dimulai dengan pembuatan bibit kecap dari tempe kedelai yang difermentasi dalam larutan garam 40 persen selama 1 hingga 2 bulan. Fermentasi dinyatakan berhasil ketika muncul aroma khas tempe yang harum.
Bibit kecap yang telah jadi kemudian dimasak dengan air kelapa segar, yang memberi rasa gurih alami. Untuk varian manis, ditambahkan gula aren asli Papua.

Baca Juga: Sat Samapta Polres Sarmi Gelar Patroli Dialogis Sasar Pasar dan Pangkalan
Yang membuatnya unik, proses akhir melibatkan larutan tepung sagu—bahan khas Papua—yang memberikan tekstur lembut dan rasa khas pada kecap. Setelah dididihkan dan diaduk hingga mengental, kecap disaring, didinginkan, dan dikemas dalam botol siap jual.
Cita Rasa Gurih dan Autentik dari Bumi Cenderawasih
Hasil akhirnya? Sebuah produk kecap dengan cita rasa seimbang: gurih, tidak terlalu manis, dan tidak terlalu asin. Aroma rempahnya kuat, dan rasa sagunya memberi karakter yang membedakan dari kecap kedelai biasa.
Kelezatan ini membuat Kecap Sagu Gwinjaya mulai dikenal sebagai produk kuliner unggulan daerah. Banyak masyarakat yang menyukai rasanya karena cocok untuk berbagai masakan, mulai dari tumisan hingga hidangan tradisional Papua.








