, ,

Di Tengah Upaya Provokasi, Tokoh Adat Papua Barat Daya Kuatkan Seruan Damai

by -3076 Views

Suara Kearifan dari Tanah Papua: Tokoh Adat Serukan Kedamaian dan Tolak Segala Provokasi

NEWS SARMI– Di tengah gemuruh informasi dan dinamika sosial yang kerap memanaskan suasana, suara-suara yang menyerukan ketenangan dan kebijaksanaan justru sering kali menjadi penyejuk yang paling dibutuhkan. Hal ini kembali terlihat jelas dalam menyikapi perkembangan terkini di Papua, pascapemindahan empat tahanan kasus makar dari Sorong ke Makassar. Situasi yang rentan memunculkan spekulasi dan aksi reaktif ini justru direspons oleh para tetua dan pemimpin masyarakat Papua dengan seruan yang lantang, jelas, dan penuh wibawa: Jaga Kedamaian, Tolak Provokasi.

Seruan ini bukan sekadar imbauan formal, melainkan cerminan dari kearifan lokal (local wisdom) yang telah mengakar jauh dalam kehidupan masyarakat adat Papua. Mereka memahami betul bahwa stabilitas sosial adalah fondasi utama dari segala aspek kehidupan, mulai dari keberlangsungan adat istiadat, masa depan generasi muda, hingga pembangunan yang berkeadilan.

Pemindahan Tahanan dan Ujian Stabilitas

Pemindahan tahanan adalah prosedur hukum yang lazim dilakukan demi alasan keamanan dan kelancaran proses peradilan. Namun, dalam konteks Papua yang memiliki sensitivitas sosial-politik tinggi, setiap langkah seperti ini dapat dengan mudah disalahtafsirkan dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Kekhawatiran akan munculnya aksi anarkis yang justru merugikan masyarakat sendiri menjadi sangat nyata.

Di Tengah Upaya Provokasi, Tokoh Adat Papua Barat Daya Kuatkan Seruan Damai
Di Tengah Upaya Provokasi, Tokoh Adat Papua Barat Daya Kuatkan Seruan Damai

Baca Juga: PT PLN Umumkan Jadwal Pemadaman Listrik di Bali Hari Ini, 3 September

Dalam vacuum informasi yang sering kali terjadi, provokasi dan isu negatif mudah menyebar, memanaskan emosi, dan mengabaikan akal sehat. Momentum inilah yang dilihat oleh para tokoh adat dan masyarakat sebagai titik kritis dimana suara kearifan harus didengungkan lebih keras daripada suara kebencian.

Seruan Bijak dari Hati Nurani Papua

Figur-figur terpandang dari berbagai penjuru Papua Barat Daya telah angkat bicara, menyatukan visi untuk perdamaian.

1. Demak Siji, Tokoh Adat Aitinyo Raya & Anggota MRP: Sebagai representasi dari lembaga adat tertinggi, Demak Siji mengingatkan masyarakat agar tidak terseret arus provokasi. Dengan tegas ia menyatakan bahwa aksi anarkis hanya akan menuai kerugian multidimensi. “Ketika kita habis energi untuk konflik, yang terhambat adalah pembangunan dan kesejahteraan yang justru sangat kita dambakan,” pesannya. Ini adalah perspektif visioner yang memandang kedamaian bukan sebagai tujuan statis, melainkan sebagai prasyarat dinamis untuk kemajuan.

2. Moses Kaliele, Kepala Suku Binasket Kabupaten Sorong: Moses Kaliele mengetuk hati masyarakat untuk tetap tenang dan waspada. Ia mengidentifikasi adanya “kelompok tertentu” yang sengaja menciptakan keributan untuk kepentingannya sendiri. Seruannya, “Stabilitas adalah kunci,” menyadarkan kita bahwa hanya dalam kondisi tenanglah anak-anak bisa sekolah, para petani bisa ke kebun, dan roda perekonomian dapat berputar dengan lancar. Ini adalah seruan untuk melindungi kehidupan sehari-hari dari gangguan kepentingan sempit.

3. Moses Parebabo, Tokoh Masyarakat Biak Karon & Kepala Kampung Ruaf: Dari Kabupaten Tambrauw, Moses Parebabo menekankan pentingnya imunitas masyarakat terhadap isu-isu pemecah belah. Ajakannya untuk menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif adalah sebuah langkah pro-aktif. Ia tidak hanya menolak kekacauan, tetapi juga mengajak setiap individu untuk aktif membangun ekosistem kedamaian mulai dari tingkat kampung. Ini menunjukkan bahwa perdamaian adalah tanggung jawab kolektif.

Kedamaian adalah Fondasi Pembangunan dan Kesejahteraan

Pesan para tokoh ini memiliki dampak yang sangat konkret. Papua adalah wilayah dengan potensi sumber daya alam dan budaya yang luar biasa. Namun, potensi itu akan sia-sia jika tidak ditopang oleh keamanan dan stabilitas. Investor, baik dari dalam maupun luar negeri, akan berpikir dua kali untuk menanamkan modal di daerah yang rawan konflik. Program-program pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan dari pemerintah pun akan terhambat jika suasana tidak kondusif.

Dengan menjaga kedamaian, Papua membuka pintu lebar-lebar untuk:

  • Akselerasi Pembangunan: Infrastruktur seperti jalan, jembatan, bandara, dan pelabuhan dapat dibangun lebih cepat.

  • Peningkatan Pelayanan Publik: Guru dan tenaga medis dapat bekerja dengan optimal di daerah-daerah.

  • Pertumbuhan Ekonomi Lokal: UMKM Papua dapat berkembang dan memasarkan produknya dengan lancar.

  • Pelestarian Budaya: Masyarakat dapat dengan tenang melestarikan dan mengembangkan warisan budaya leluhur yang tak ternilai.

Kearifan Lokal: Senjata Ampuh Melawan Provokasi

Mengapa seruan dari tokoh adat ini begitu penting? Karena mereka adalah pemegang otoritas moral yang dipercaya oleh masyarakat. Nasihat mereka tidak datang dari Jakarta atau dari instansi pemerintah, tetapi lahir dari nilai-nilai lokal yang telah dipraktikkan turun-temurun. Mereka memahami bahasa, budaya, dan pola pikir masyarakatnya.

Pendekatan keamanan semata seringkali tidak cukup. Pendekatan yang berbasis pada kearifan lokal (cultural-based approach) justru lebih efektif karena menyentuh hati dan rasa keadilan masyarakat. Ketika tokoh adat bersuara, masyarakat mendengarkan karena itu adalah suara dari “orang mereka sendiri”, suara yang memahami duduk perkara sebenarnya tanpa distorsi.

Kolaborasi untuk Masa Depan Papua yang Gemilang

Seruan perdamaian ini juga merupakan undangan untuk berkolaborasi. Pemerintah pusat dan daerah tidak bisa bekerja sendiri. Mereka membutuhkan dukungan dan legitimasi dari masyarakat, yang diwakili oleh para tokoh adat ini. Di sisi lain, aparat keamanan dituntut untuk bertindak profesional, humanis, dan mengedepankan dialog dalam menjalankan tugasnya.

Sinergi segitiga antara Pemerintah, Aparat Keamanan, dan Masyarakat (yang diwakili Tokoh Adat) adalah formula terkuat untuk memastikan Papua tetap damai dan maju. Dalam kolaborasi ini, setiap pihak memiliki perannya masing-masing:

  • Pemerintah: Menyediakan pembangunan yang adil dan merata.

  • Aparat Keamanan: Menjaga keamanan dengan pendekatan yang manusiawi.

  • Masyarakat & Tokoh Adat: Menjaga harmoni sosial dari dalam, menolak provokasi, dan menjadi mitja kritis yang konstruktif.

Seruan dari Demak Siji, Moses Kaliele, Moses Parebabo, dan tentunya banyak tokoh lainnya yang tidak terlihat, adalah sebuah testament akan kecintaan mereka pada tanah dan masyarakat Papua. Mereka tidak ingin melihat anak cucu mereka mewarisi konflik, melainkan mewarisi tanah yang damai, maju, dan sejahtera.

Kedamaian bukan berarti tidak adanya perbedaan pendapat. Kedamaian adalah kemampuan untuk menyelesaikan perbedaan pendapat tersebut tanpa kekerasan, melalui dialog dan musyawarah, sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia dan kearifan adat Papua.

Dengan mendengarkan suara bijak para tokoh ini, masyarakat Papua telah mengambil langkah terpenting: memilih masa depan daripada emosi sesaat, memilih pembangunan daripada kehancuran, dan memilih untuk merawat perdamaian sebagai investasi terbesar bagi generasi yang akan datang. Pada akhirnya, kedamaian di Papua adalah kemenangan bagi semua, dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

telkomsel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.